Blogger Widgets
Tampilkan postingan dengan label Sastraku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastraku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Desember 2015

Cerpen Tema Keterbelakangan mental dan cinta karya Dina Deen

Dua Dalam Satu
Karya: Dina Deen

Matahari sedang tidak bersahabat denganku. Sengatannya membuat ubun-ubun semakin mendidih. Topi merah yang tempo hari kubeli dari pedagang asongan terpaksa kukenakan. Topi dengan rajutan tulisan Erlina, namaku, dibagian depannya. Entah apa respon bos nanti jika melihatku menggunakan topi itu lagi. Dua hari lalu ketika baru kubeli langsung dikatai topi kampung oleh bos kecilku. Iya, bos kecilku. Bos yang juga masih menyandang status mahasiswa, sama sepertiku. Namun tepatnya, dia mahasiswa pengusaha. Berbeda denganku yang hanya meraup untung menjadi karyawannya, bekerja paruh waktu di sela-sela kuliah yang begitu padat. Kafe kecil bosku sudah sangat terkenal di daerah ini. Banyak muda-mudi yang menggandrungi kafe kami. Kebanyakan pengunjung merupakan sepasang kekasih. Sama seperti sepasang sejoli aneh yang ku dapati hari ini. Tidak, tepatnya hanya salah satu dari mereka yang mendapat julukan itu.
Sang gadis mendekati meja pesanan. Kebetulan Robi, sesama karyawan yang hobi sekali mendengarkan musik, tidak mendengar suara lonceng yang digetarkan gadis itu. Aku pun beranjak dari kursi kasir dan melayaninya.
“ Satu kopi Cappucino, satu ice chocolatte ya, Mbak.”
“ Iya. Bungkus atau minum sini?”
“ Minum disini, itu... sudah ada yang menunggu di meja sana,” ujarnya seraya menunjuk pada meja ujung kafe. Di meja itu terdapat satu pemuda dengan wajah tampan berkulit kuning langsat. Di balik kacamatanya terlihat jelas pemuda itu masih sibuk memandangi sang gadis. Gadis yang mengenakan baju merah muda dengan kerah bermotif bintik putih itu memanglah sangat cantik. Lesung pipitnya merekah seraya memperhatikan sang kekasih. Tunggu, entah kekasih atau teman, aku memang kurang memahaminya. Namun, aku sudah sering melihat keduanya datang kemari. Entah itu hanya mereka berdua saja, dengan satu teman yang lain, atau dengan rombongan beberapa orang yang sepertinya juga kawan baik mereka. Pertama kali mereka kesini datang berombongan dengan beberapa anak laki-laki dengan seragam yang sama. Seragam putih dengan bawahan kotak abu-abu.
“Terimakasih mbak.” Kata gadis itu lagi. Ia berlalu membawa dua cangkir kopi pesanannya. Pelanggan tengah sepi. Jadi tidak menjadi sebuah kesalahan apa ketika aku terus memperhatikan sepasang anak sma itu. Ada hal yang menorehkan pertanyaan besar di benakku. Pemuda itu memiliki tatapan sendu. Seakan telah melakukan sebuah dosa besar yang tak termaafkan.
“ Cantik sekali, andai dia belum punya kekasih. Iya kan, Er?” Celetuk Robi. Dia baru saja tersadar dari belasan musik baratnya. “ Seseorang gadis itu lebih cantik ketika dia belum memiliki kekasih.”
“ Itu menurutmu saja, ku kira. Tapi, memangnya kamu yakin mereka benar-benar sepasang kekasih?”
Robi memutar bola matanya, mencoba mengingat-ingat sesuatu. “ Entahlah, Er. waktu itu dia kemari dengan laki-laki yang berbeda. Tapi aku tidak yakin dengan yang waktu itu, ataupun yang ini. Aku hanya yakin jika dia denganku.”
Seringai Robi membuatku mencibirnya dengan spontan. Kurampas headphone beserta mp3 miliknya dan berlalu begitu saja. Robi, dia memang seseorang yang gemar bercanda. Sesaat ketika aku baru sampai di singgasana kasirku. Seseorang tiba-tiba datang ke hadapanku. Dan pembicaraan itu kemudian terjadi terus menerus tepat di depan mata.
*****
“ Kenapa?” Tanya Indah kepadaku. Mataku masih tak henti-hentinya terpaku menatap wajah lugu yang ada di hadapanku saat ini. Sang gadis tersenyum manis, mengeja kembali sebuah tawaran untuk kesekian kalinya. “ Mau minum apa?”
            Kedua pundakku terangkat dengan tetap menunjukkan gelagat kikuk. Senyuman Indah yang tak pernah memudar membuatku semakin bingung untuk bersikap. Cinta yang hampir genap berusia tiga tahun ini sudah terlalu mengembun manis. Terbumbui dan semakin terasa ketika kami bersama. Namun, tatapan mataku yang sebenarnya merupakan sebuah tatapan nanar. Tatapan cinta dengan sekelebat ketakutan menjalarinya. Aku sadar apa yang telah kulakukan adalah sebuah kesalahan. Kekasih sahabatku ini tidak seharusnya  kuajak pergi bersama. Tetapi tidak, hatiku menolak pernyataan itu. Bukan aku yang mengajak, melainkan gadis berambut panjang sebahu itu yang menawari pertama kali. Dari kejauhan, mataku masih mencuri pandang terhadapnya. Indah pun masih merasakan tatapan tajam yang ku lakukan. Dari balik meja pesanan, lesung pipitnya kembali mencuat cantik. Lesung pipit itu mengingatkanku tentang  masa lalu yang telah terlambat. Lima bulan lalu pastinya, ketika sebuah hal naas terjadi.
            Aku sebenarnya tidak suka menyebut hal itu dengan sebutan naas, karena seharusnya itu adalah hal yang membahagiakan. Bagaimana mungkin tidak membahagiakan ketika mendapati sahabat terdekatku sendiri, Seno, mendapatkan kekasih baru. Seno kala itu menemuiku dengan sebuah seringai lebar. Aku suka menamainya dengan seringai rubah bermakna ganda. Tangan bekulit kuning langsat milik Seno merangkul pundakku sembari berjalan di lorong gelap lantai tiga. Hal yang selalu sama dilakukan olehku dengannya ketika melintasi lorong menuju ke kelas kami.
            “ Arya dan Seno, tampaknya nama kita bagus jika kita jadikan satu,” ucap Seno suatu ketika sembari memakan es krim pisang dengan tangan kirinya. Mungkin teman satu sekolah pun merasakan  seperti yang dikatakan Seno itu. Sesekali, mereka memang memanggil kami menjadi satu.
            Langkah serentak kami berdua terhenti, mendapati langkah lain datang dari arah yang berlawanan. Indah dengan beberapa buku berukuran besar di tangan, berjalan lunglai memberikan sinyal permohonan bantuan. Seno adalah pemuda dengan antena paling tajam yang pernah ada. Dia sigap menghampiri Indah seraya memasang seringai sama seperti yang selalu ia lakukan. Lesung pipit cantik mencuat dengan sangat mempesona di pipi Indah. Ia muncul menyambut kedatangan seseorang yang memang telah lama mendekatinya. Percakapan mereka terjalin begitu saja, mengalir dengan renyah, seakan tidak ada aku yang masih teronggok di ujung persimpangan. Berulangkali aku merasakan itu.  Sampai suatu hari ku dengar jelas pernyataan cinta dari sahabatku itu untuk si gadis.
            “ Iya, aku mau.” Jawaban Indah terdengar nyaring di telingaku. Perpustakaan bercat kuning sekolah kami menjadi saksi hatiku yang mulai pupus. Namun aku tetap memakluminya. Seno sang bintang sekolah, takkan sebanding denganku, meskipun aku menjabat ketua osis di sekolah sekaligus. Seno notabenenya seorang pemuda supel dan tampan. Berbeda denganku, seorang pemuda berkacamata dengan cap si kutu buku.
            Lamunanku seketika terbuyar begitu saja. Tangan halus Indahlah yang menyebabkannya. Ia menyodorkan kopi cappucino dingin ke hadapanku. Jemari Indah teremas lembut ketika tangan kananku meraih kopi itu dari jemarinya.       
            “ Makasih, ya.”
            Indah mengangguk dan tersenyum kecil, “ Tapi kamu sedang baik-baik saja, kan?”
            “ Aku baik. Hanya saja...” ucapanku terputus, membuat dahi Indah sedikit berkerut. “Hanya saja, aku sedang berpikir sesuatu. Aku takut kamu menyakitinya.”
            “ Siapa?”
            “ Seno.”
            Indah terkekeh mendengar nama Seno tersebutkan. Ia kembali menatapku dengan menggenggamkan tangan kanannya ke tangan kiriku. Diriku terkejut bukan main. “ Entah itu Seno ataupun Arya, aku tidak peduli,” ucapnya, “ Aku hanya peduli pada orang di hadapanku saat ini.”
            Genggaman itu segera terlepas. Aku menyadari hal itu sebuah kesalahan. Aku membuang muka, berusaha menutupi wajah merah yang baru Indah sebabkan. Dari kejauhan, tatapan mataku tiba-tiba terpaut pada sesosok pemuda. Pemuda bermata sipit mengenakan baju kotak-kotak coklat tengah menatap kami dengan tatapan garang. Ekspresi muka yang belum pernah ku dapati sebelumnya dari pemuda berkulit kuning langsat itu. Aku pun bangkit, bermaksud  pergi ke kasir untuk segera beranjak dari tempat itu. Aku benar-benar tidak berharap pemuda yang ku lihat itu memanglah Seno.
            Sampai seketika aku baru saja mengeluarkan dompet. Tangan pemuda itu mencegah dompet itu terbuka. Mata kami berdua saling bertatapan. Aku mendapati orang itu dengan kikuk. Seno berdiri disampingku sembari memasang rokok di  mulutnya. Aku berusaha tak acuh, dan kembali berkutat dengan sesosok wanita di kasir. Namun, wanita bertopi di hadapanku juga hanya menatapiku dengan tatapan heran. Aku menolehkan muka pada pemuda di sampingku tadi. Dia sudah mulai menghisap rokok dengan nikmatnya. Untuk menghadapi canggung di antara kami, aku berusaha memberi penjelasan.
            “ Bukan aku yang mengajaknya terlebih dahulu.”
            Dia mengepulkan asap rokoknya ke mukaku. Aku terbatuk 
            “ Aku tidak peduli akan hal itu,” ucap Seno, “ Aku hanya tidak habis pikir akan apa yang kalian lakukan disini. Atau mungkin di tempat lain di waktu yang berbeda.”
            Aku hanya terdiam. Tak tahu harus berkata apa padanya. Ku sodorkan uang pada wanita di hadapanku, wanita yang mulai mengacuhkan percakapan kami berdua.
            “ Kurasa kata sahabat sudah tidak pantas kita sebut-sebut lagi di antara kita, Arya dan Seno. Oh, tidak... lebih tepatnya Si Penghianat dan Seno.”
            Aku tercekat. Mata Seno tampak merah.  Aku masih tidak dapat menyangkal apapun lagi pada pemuda yang ku anggap sahabatku sejak kecil itu. Sahabat yang selalu bersamaku dimanapun dan kapanpun ku butuhkan.
            Tiba-tiba kepalan tinju tangan kiri Seno melayang di pipiku. Tubuhku roboh di samping meja kasir,  tepatnya di dekat wanita dengan topi bertulis nama Erlina yang masih terus memandangi perkelahian kami. Ia memang hanya memandangi kami, tanpa berusaha menjauhkan Seno dariku. Aku yang tidak terima dengan pukulannya pun membalas dengan tidak kalah sengit. Tidak peduli ia siapaku.
            Perkelahian sengit kami pun terjadi. Tidak butuh waktu lama  untuk mengumpulkan orang-orang di sekitar kafe untuk menonton kami. Sekali lagi, mereka memang hanya menonton. Tidak ada yang berusaha melerai. Sampai sebuah tangan halus memegang kuat pundakku. Ia mengelus luka di bibirku dengan tangan putihnya. Seno semakin menatapku dengan tatapan kebencian yang luarbiasa. Akan tetapi anehnya, ia hanya berdiri mematung. Tidak berusaha menyerangku sekali lagi. Hal itu terjadi mungkin karena ada sosok Indah yang kini melindungiku.
            “ Arya, kamu terluka? Ayo kita pulang saja.” Ajak Indah. Tangannya megangkat lenganku dan mencoba memapah. Aku menyeringai kecil. Aku tak heran sama sekali kenapa Indah mengacuhkannya. Aku yakin gadis itu sudah yakin telah memilih pasangan yang salah. Indah lebih mencintaiku.
*****
            Punggung keduanya sudah terlihat seperti titik kecil saja di bola mataku. Gerombolan pengunjung yang ikut menyaksikan kejadian tadi pun sudah bubar, meskipun mereka masih membicarakannya tanpa henti. Anak lelaki itu memang aneh, sesuai dengan perkiraan ketika awal perjumpaan kami. Ketika ia datang ke kafe tempatku kerja, atau bahkan ketika ia baru berdiri di hadapanku di meja kasir. Ia berucap sendiri, mengepulkan rokok yang ia tiupkan pada mukanya sendiri. Aku yakin akan hal itu karena pemuda dengan tangan kidal itu sempat menatapku pula. Aku tak dapat membayangkan bagaimana rasanya jika diposisi sang gadis. Ku tepis semuanya dengan segera. Sampai tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah benda yang teronggok di meja kasirku. Sebuah dompet coklat kulit dengan gambar tengkorak kecil di pojok sebelah kanan.

            Pemuda yang mengguling-gulingkan tubuh dan memukuli dirinya sendiri di lantai tadi meninggalkan dompetnya di meja kasir. Ya, memang hanya dompet itu yang tersisa lengkap dengan kotoran abu rokok. Abu itu berasal dari sepuntung rokok yang tadi ia hisap menggunakan tangan kirinya sewaktu membayar di kasirku. Ku harap mereka belum berjalan jauh dari sini. Segera ku keluarkan KTP pemuda itu dari dalam dompet. “Arya Suseno”, nama pemuda dengan mengenakan baju kotak-kotak coklat yang sempat terjatuh di samping meja kasirku tadi. Nama itu tertera jelas di KTP si pemuda. Bersebelahan dengan sebuah fotonya tanpa menggunakan kacamata. Nama yang bagus menurutku, dan mungkin akan menjadi satu nama yang fenomenal di telingaku sampai kapanpun.

CERPEN WUSANA KANG BEDA Karya Dina Deen

WUSANA KANG BEDA
Karya: Dina Deen

Sumilir bayu lumantarake sikil keloronku tumuju menyang papan panggonan ana ngarepku. Papan iku wus kerep dakmangerteni. Panase srengenge nyorot jelas marang pager wesi werna irenge. Dakbukak lirih pager sing duweni werna asli coklat tuwa iku. Sepintas katon sepi ora ana wong babar pisan. Kahanan sepine ora kaya pranyata sing ana ing jerone. Saya suwe olehku mlebu ruwang-ruwangan ana ing kono kasil nemukake pawongan loro. Kelorone lagi katon tugas jaga.
Wong sing siji katon isih nom-noman, kaya saumuranku. Dheweke lungguh sinambi ngetak-ngetiki komputer. Komputer iku njinggleng ana ngareppe. Wong  lanang sawijine maneh sibuk karo koran ing tanganne. Mripate katon minus. Olehe mirsani nganthi nyureng-nyureng nggatukake alis keloron sing kandele ora jamak. Alis kandel iku marekake awakku ngerti sapa priyayi iku. Langsung bae dakgawa awakku marang ngarep meja iku mau.
“ Sugeng siyang, Pak Jendra.”
Pak Jendra nylingak rada kaget nyawang paraupanku. Dheweke sing pancen dhuweni watak sumeh merak ati ora butuh wektu suwe langsung ngetokake eseman amba, “ Wah... Yanto, to? Sugeng siyang, sugeng siyang... Lungguha dhisik kene. Kepriye kabare?”
“ Sae, Pak.” Ucapku sinambi ngulungake tangan tengen kanggo ngajak piyambake salaman. “ Panjenengan dospundi? Kula kinten sampun boten dines wonten ngriki.”
“ Lho, jare sapa?”
“ Kalih dinten kepengker kula uga dhateng ngriki, nanging boten kepanggih panjenengan. Wekdal menika namung pepanggihan kalih Pak Wirahadi.”
Pak Jendra ngguyu latah. Botol-botol inuman plastik ing ngareppe disingkirake. Kulit-kulit kacang kosong disorok karo tangane kanggo diguwak menyang kranjang sampah. Banjur tangane isih sibuk nglempit koran nalika ngendikan marang awakku. “ Owalah, jebul tamu agung sing dimaksud Wirahadi kuwi Yanto? Mesthi siki arep ngurusi perkara iku, to? Bocah kok sajak seneng pisan urusan karo kantor pulisi. Mengko, mengko... dakgoletake datane.”
Pitakonan tumpuk-tumpuk iku namung dakjawab singkat, “ inggih, Pak,” sinambi mesam-mesem ora genah. Esemanku wektu iku antara isin lan bingung njawabi pitakonane karo nutupi rasa canggungku. Kepriye ora canggung, awakku wus kadung dicap beda dening Pak Jendra lan kanca-kancane. Sinambi nunggu, mripatku lunga menyang ngendi-endi. Pas ana ing sebelah tengenku isih mapan kursi sopa abu-abu. Kursi sopa metuan taun sangangpuluhan. Wernane abu-abu, kagawe saka bahan kain kandel. Ngisore disangga karo kayu jati. Akeh bagiyan kayune wus wiwit kropos. Kursi iku saiki wus katon rada putih buluk. Salah sawiji kursine wus njomplang, kursi sing mapan paling kiwa. Kursi iku njomplang kawit dina iku. Dina kawitane aku tepung karo panggonan kana.
Pas ing wayah lingsir wengi, aku tiba menyang kantor kanthi ditumpakake mobil pulisi. Mobil sing ana lampu werna kuning iku ditumpaki kebak dening wong papat. Loro pulisi, siji kancaku, lan sijine maneh awakku. Pak Jendra sing nuntun awakku menyang mobil karo sabar pisan, nanging katon yen ana rasa nesu sithik. Sikilku namung lecet-lecet sithik. Nanging tetep bae ana siji lukane sing cecel jero. Jare kancaku lukane wus kudu dijait ora kanthi loro apa telu jaitan. Mula awakku ora daya mlaku dhewek. Motorku rusak rada ringsek. Kepriye ora ringsek yen mlaku ana ing angka sangangpuluh nganti satus nubruk saka listrik. Tiyang listrike ora kenapa-napa. Nanging ujung- ujunge motorku gandheng karo awakku mlebu menyang selokan.
Motore kancaku siji iku uga nubruk motorku nganti ngguling, mula dheweke melu mrene. Dheweke arep ngurus-urus bab rusakke motore ing kantor pulisi iki uga bareng awakku. Untunge Doni, kancaku iku, ora luka-luka, yen nganti luka aku uga sing mbayari brobate amarga aku sing kawitan tiba lan dadikake dheweke kesandung.
Bubar tekan ing kana, Doni lan Pak Jendra ndelehake aku ana ing sopa abu-abu. Sinambi ngrintih-rintih lirih, aku isih keprungu cetha pitakonan-pitakonane pak Wirahadi lan pak Amin sing lagi ngrekap data kacilakanku.
“ Apa jinise motormu iku?”
“ Harley Davdison, Plat K 2171 AW.” Swasanane amleng, namung ana swara tak-tuk-tak-tuke mesin tike pak Wirahadi. Pada kaya kahanan dina iki. Swara tak-tuk mesin tik isih ngancani lamunanku. Sanadyan wus akeh komputer, nanging mesin tikke kantor pulisi iki isih dienggo.
“ Ora ana, To.” Pangucape pak Jendra, nggugah lamunanku sanalika. “ Kepriye yah, jebul datane keformat kabeh.”
Batukku mengkerut, kuwatir tenan yen  suratku ora bisa metu. “ Lajeng, saene kados pundi, Pak?”
“ Awakmu tenang bae, aku bisa nggawekake maneh. ning awakmu nungguni luwih suwe maneh gelem tah ora, Yan?”
“ Inggih purun sanget, Pak. Boten punapa-punapa. Malih etang-etang kangge ngobati raos kangen kula dhateng papan menika.”
Pak Jendra ngguyu latah sebanter-bantere, “ Lah wong kantor pulisi kok dikangeni, kowe lho aneh-aneh bae, Yan... Yan... Yawis, tunggu sik ya, dakgawekake dhisik. Mrene nyilih KTPmu, nduk.”
“ Inggih Pak, sumangga menika KTPnipun.” Ucapku sinambi ngecungke KTPku.
Nganti tumuju tekan ing ruwang buri, pak Jendra isih dakkrunguni swara ocehane. Dheweke katon bungah pisan ketemu awakku maneh sapet pirang-pirang taun suwene. Sing dakgumuni, piyambake isih kelingan cetha marang awakku. Padahal sakjrone kenal dhewek, aku ngerti pisan yen Pak Jendra iku wong lalinan. Kaya biyen nalika ngancani piyambake dines jaga rong dina nurut-nurut. Esuke dina sepisan Pak Jendra katekan tamu nglapurake yen kemalingan komputer. Wong sing umur patang puluh telu taun wektu iku wus ngiyani bakal nglapurake marang kantor pusat langsung. Nanging esuke dina keloro, Pak Jendra malah lali yen wong iku tau menyang kantor pulisi kanggo nglapurake kemalingan komputer. Sajak malah nganti sewulan tambah lali nglapurake marang kepala kepulisiane. Alesane amarga catetane ilang. Nanging aku bae isih kelingan lan ngaweruhi kanthi cetha tulisan iku katempel ing papan kerjane piyambake. Wus dakelingake kanthi kopang-kaping tetep bae laline. Beda karo dina iki. Namung weruh paraupanku sakeplasan wus mangerteni yen iki awakku.
Padahal aku saba ing kantor dinesse pak Jendra iku namung sekitar setengah sasi punjul sithik. Pancen dakurus tenan perkara kacilakan iku mau. Kepriye ora dakurus, semanja-manjane awakku isih duweni rasa tanggungjawab. Isih dakeling-eling tenan kepriye nganti telung sasi suwene anggonku nggegrek duweni panjaluk motor Harley Davidson. Nganti telung sasi suwene katon dadi mungsuhe wong tuwa keloron. Namung amarga motor gedhe sing ringsek ora rupoa. Motro sing saiki wus ora ana bathange.
Wong-wong padha ngomong yen aku iki kalem utawa menengan. Nanging nalika wus duweni panjalukan kemudu-kudu kelakon. Padahal awakku ngerti yen bapak lan ibuku lagi ora duwe duwit. Sawah kaluwargaku lagi kena hama. Dodolan ning pasar uga untung-untungan anggone payu. Mula kanca-kanca sakbrayanku nganthi sering mokal yen aku iki namung cecak nguntal empyak, duweni gegayuhan kang ora timbang karo kekuwatane. Watekku pancen atos, apa sing dadi gegayuhanku kudu kelakon. Nganti pungkasane aku bisaa ngganti motor gedhe sing dakduweni sadurunge nalika tanggal kramatku tumiba.
Nembelas desember motore teka. Jare simbok kanggo kado ulangtaunku sadurunge aku lulus saka kuliyahku ing Jogja. Nanging emane jebul motor iku namung seminggu umure. Rama biyungku namung bisa ngelus dada. Doni lan kanca liyane uga namung ngunek-ngunekake motorku pungkasane. Jare pancene dadiya motor kramat bae. Embuh kramat amarga wong tuwaku ora ikhlas utawa apa aku ora patia paham.
Dakakuni aku dudu salah sawijine nom-noman sing seneng trek-trekan utawa apa iku sebutane. Nanging duweni kasenengan motor gedhe ya dudu kaluputan. Umur kuliyah kaya awakku ya pantese pancen seneng adu gagah-gagahan motor. Kancaku sakbrayanan kabeh uga ora beda kasenengane. Jare psikolog isih wayah saumuranku kuliyah iku ish wayah-wayahe adu gengsi lan gaya. Motor gedhe iku salah sawijine gaya sing dimaksud. Sakliyane dadi hobi, motor gedhe uga dingandeli bisaa dadi daya pikat dhewe kanggo nyedhaki wong wedhok. Mula kadang nalika simbok lan bapak padha dukani awakku amarga kakehan panjalukan, aku bisa mbela awakku kanthi alesan yen lagi jamane kaya mengkana. Bedane namung ana ing watek lan sipat iki. Watek lan sipatku sing atose ora jamak jarene simbok.
Pak Jendra sering aweh pitutur becik saben aku lunga menyang kantor pulisi. Aku wus dianggep kaya dadi anak kandunge dhewek. Ora gumun yen kamangka aku dadi apal papan-papan ing jero kantor pulisi kana. Kantor pulisi sing resike ora jamak ya kantor iku. Ana taman cilik saknjerone kantor. Sadurunge mlebu ing papan tralis wesi ana woh-wohan wit werna-werna. Embuh iku wit rambutan, pelem, utawa anggur sing ngrayap ana ing dhuwur payon bagiyan jero. Sipire ya duweni watek sumeh lan eman. Nanging sapet lulus aku wiwit rada jarang dolan, malah sajak ora tau. Kahanane wus robah. Ana pira-pira sipir cedhak sing wus dipindah dinese ora ana ning kana maneh. Kaya pak Danyong, pak Syukur, pak Sigit, Bu Esti, lan sapiturute. Nanging aku seneng pak Jendra isih ajeg ana ing kene. Dheweke malah sajak isih apal lan kenal apik karo awakku. Kaya ora tau kepisah babar pisan. Pak Jendra, priyayi gagah sing rambute wus sajak mutih. Nanging alis kandele isih cemeng. Priyayi sing saiki isih sibuk dakgatekake mlangkah menyang arah papanku jejagongan.
“ Iki surate, lengkap karo tandatangan lan stempele pak kepala.”
Lambeku mringis ngetokake untu-untuku sing nderet rapi. “ Wah... maturnuwun sanget, Pak.”
Dakwaca kanthi setiti kertas sing diwenehi saka Pak Jendra. Surat Keterangan Berkelakuan Baik unine. Janjane yen padha ngerti urusanku bolak-balik kantor pulisi ora bakal dha ngandel yen awakku pancen ‘Berkelakuan Baik’. Dakguyu lirih, nanging namung ana ing ati.
“ Arep daftar PNS ngendi? Jogja bae, to?”
“ Badhe nyobi wonten Semarang, Pak.” Ujarku, “ nyuwun berkah pandonganipun.”
“ Iya... iya...” Pak Jendra ngiyani sinambi gedeg-gedeg ngguyu.
Batukku ganti mengkerut maneh, “ Wonten napa ta, Pak?”
Tangane sajak ngelus-elus rambutku, padha kaya kahanan pirang-pirang taun kepungkur. Pada isih nganggep awakku kaya putrane dhewek. “ Jebul bocahku wus gedhe. Sing sukses ya, Nang. Aja kalem-kalem olehmu ngajar yen besuk sida dadi dosen. Aja mundak dadi kacang sing ninggal lanjaran. Lunga sedela mengko banjur lali marang awakku, marang kantor sing dadi papanmu saba biyen iki...”

Aku ngiyani sinambi ngempet luh sing karepe arep metu bae nalika weruh paraupane pak Jendra. Pangandikane pak Jendra isih terus dakeling. Gusti iku cedhak tanpa senggolan, adoh tanpa wangenan. Manungsa mung bisaa mohon, mangesthi, mangastuti, lan marem, tegese nyuwun Gusti nyelarasake patrap lan ucap supaya tenan migunani ing urip salawase. Pancene bener perkara iku kabeh. Tumiba ibarat kayata uler, menungsa uga nglakokake metamorfosa. Kayata aku, pirang taun kepungkur aku ngadep ing kepulisian amarga nakalku. Ngadep amarga pepenginan sipat kekanakkanku. Nanging saiki, pirang dina maneh aku ngadep kertas lamaran PNS. Wus dudu wayahku lunga menyang Harley Davidson lan sapiturute. Kantor pulisi iki kang nyekseni, kahananku biyen lan saiki. Aku metu saka kantor pulisi, aku metu lan nglangkah marang owahing urip kang sejati.

Senin, 05 Januari 2015

SINOPSIS NOVEL




Judul                   : Katresnan
Karya                  : Soeratman Sastradihardja
Penerbit                : Balai Pustaka
Tahun Terbit      : 2013

            Mursiati, pawestri ayu lan pinter, demen anggone marsudi ngelmu. Ora cukup mlebu ana ing HIS bae, dheweke uga nglanjutake menyang MULO. Sanadyan nglanjutake, nanging atine ora melu lanjut amarga Mur wus kepentok marang sawijining priyayi kang wus dikenal saka sekolah HIS kala biyen. Nanging, rasa tresna kalorone namung bisa kapendem lan kelawan dening adat budaya jawa saka uwong tuwane.
            Novel kanthi judul Katresnan iki nggambarake kaya apa perjuwangane Mursiati lan pepacangane karo Sutrisna. Tresna sing katuwuhan ing jaman modern kang kelawan karo adat budaya jaman biyen, nalika ana aturan dhewek yen bocah wedhok namung bisa dadi manten yen dipilihake dening uwong tuwane. Tema katresnan sing dijupuk pangriptane pancen trep kanggo tema wacanan kang lagi didemeni banget dening remaja-remaja jaman saiki.
Alur keseluruhan kang dijupuk namung alur maju, nanging ana pira-pira bagiyan sing nyiptakake kesan flashbacke tokoh utamane. Mursiati ana ing novel iki diceritakake duweni sipat kang alus, pinter, ayu, seneng nyoba-nyoba, lan manutan. Nanging yen wus duweni kekarepan sing miturut dheweke apik pancen kudu kaleksanan. Ora beda karo Sutrisna sing dadi pepacangane Mur ana ing cerita iki. Priyayi bagus sing nglilakake sekolah HIS namung tingkat 3 lan nglanjutake kerja iki dhuweni sipat wicaksana, demen usaha, lan nrima. Apa kang miturut dheweke apik pancen angel kanggo dililakake, nanging luwih mikirake kaluwihan lan kakurangane sadurunge mlangkah. Sipate sing kaya mengkono diturunake saka ibune sing wus nyandang status randa anak loro. Ora kaya uwong tuwane Mursiati. Mungkin yen disebut tokoh antagonis ana ing novel sing nganggo sudut pandang diaan maha tau iki ya uwong tuwane Mursiati iku. Ego sing diduweni kekarone pada dhuwure. Mula sempet ana bagyan sing njlentrehake konflik ego antarane Mur lan uwong tuwane loro.
            Pangripta novel iki dhewek duweni asma jangkep Soeratman Sastradihardja. Panjenengane kalebu pangripta novel kang nyerat ing antarane taun 1920-1930. Dadi tunggal kanca karo M. Ardjasoeparta.Kadidene biografine pangripta sing wus nyetak patang novel iki durung kaserat karana cetha, dadi mung bisa kathithik saka karya-karyane lan kahanan ing sakiwa tengene. Rata-rata novel karya Soeratman iki nganggo basa jawa ngoko, kejaba novel kanthi judul Sukaca kang kababar nganggo basa jawa krama. Karya-karyane cacah papat mau, kabeh kacithak dening percetakan pemerintah, Balai Pustaka, klebu ing seri B, yaiku buku wacan basa ibu, kanggo nambah wawasan wong diwasa.
            Amarga kalebu novel kang kecithak dening percetakan pemerintah, Katresnan duweni nomer seri ISBN yaiku 978-979-8002-58-8. Kandele kang ana setengah senti duweni cacah ana 92 halaman. Ukuran novel iki pada kayata buku tulis biyasa yaiku duweni dawa 21 cm lan lebar 14 cm. Kertase nganggo kertas jenis kwarto werna putih resik. Kertas kang dinggo kanggo sampule nganggo kertas alus kang ndadikake werna coklat campur ireng kang diselarasake karo putih susu ing gambar ngarepe katon kinclong.
            Bahasa kang dienggo yaiku basa jawa ngoko. Mula ndadikake novel iki gampang dipahami dening para kawula muda. Isi sekabehane novel kaperang dadi pitung bab. Awit saka njlentrehake nalika Mur taksih ana ing sekolahe biyen lan nganthi sawuse omah-omah. Basa ngoko kang dienggo dening Soeratman uga nganggo basa padinan solo yogya. Tema novel katresnan dhewe yaiku nolak nikah peksan. Tema kuwi pancen nyimpang saka paugerane para sepuh ngenani njodhokake anak, ing tlatah ngendi bae. Ing kasusastran Indonesia uga mengkono, kabukten ing novel Siti Nurbaya (1920) karyane Marah Rusli kang nggambarake nasibe Siti Nurbaya lan Samsul Bachri kang sengsara ing pungkasaning crita.
 Dene novel Katresnan iki mujudake novel kang ngemot bab panulaking generasi enom marang generasi tuwa kang sepisanan kaserat dening pangripta pribumi dudu saka kaum priyayi. Paragatamane Mursiati lan Sutrisna, kang sakarone bisa kasil njugarake nikah peksan saka wong tuwane kanthi sabar, kukuhing kekarepan, lan tutur becik kang mbaka sithik diaturake marang uwon tuwane. Mursiati wani matur bola-bali marang bapak ibune bab alesane ora gelem dipeksa nikah karo priya pilihane wong liya, klebu wong tuwane. Bedane Katresnan karo Serat Riyanta, R. Mas Riyanta ora wani matur luwih akeh marang ibune, nanging malah ninggal meneng lan ngulandara. Cuplikan cendhak iki nuduhake basane Mursiati kang alus nalika matur marang Bapake , ngenani panulake marang pameksane Bapake kang atos supaya Mursiati manut gelem marang apa kang dikersakake.

.............
“ Inggih sapinten lepat kula, Bapak. Nyuwun sagunging pangapunten, jalaran ing wekdal samangke ribet sanget manah kula ngraosaken dhawuhipun Bapak, ngantos kula kaelud sakit.”
“ Ribed marga saka ngendi?”
“Mboten kadosa, Bapak. Kula rak sampun matur, bilih ing wekdal punika dereng remen ngladosi tiyang jaler. Punapa malih kula sampun gahdah panuwin, supados rembag ingkang saking Tulungagung punika mboten kadadosaken. Ing wasana, semu-semunipun sampun mateng sanget.”
“ Apa kowe kira-kira arep mbadal sing dadi prentahku lan karepe ibumu?”
“ Inggih mboten, Bapak. Ananging inggih kados pundi pamurihipun tiyang ingkang dipunpadosaken jodho? Punapa kapurih rukunipun, punapa crahipun?”
“ Yagene kowe takon kang kaya mengkono?”
“ Awit, menawi kula yektos dipunroda peksa, kaangsalaken lare ingkang kula boten remen, punika prasasat dipunpurih mboten rukunipun.
..........

Cuplikan wawanrembug Bapak lan anak iku nuduhake paragatama iku bocah sekolahan. Ing cuplikan mau krasa banget menawa Mursiati (sanadyan sedhih) tetep urmat marang wong tuwane (Bapake). Rasa urmat mau ora katuduhake karana tetembungan dening pangripta, nanging lumantar wawanrembug. Pancen taksih akeh wewarah kang bisa kecuplik saka novel tipis iki, upamane bab kurang becike pangur untu, menganggo setagen kanthi kenceng, lan liya-liyane maneh. Emane perangan wewarah mau isih katon kaya tetembungane guru marang murid. Sing dadi guru yagene iku Sutrisna, dene muride iku Mursiati. Mangka sejaine, lelorone mau kanca raket sapamulangan nalika ana ing HIS biyen.
            Saliyane ana kaluwihane temtu uga ana kekurangane. Kekurangane novel iki yaiku ing babagan teknik ndongeng. Akeh kawitan paragrap sing nggunakake tembung kang bola-bali wus dienggo, kaya tembung ‘kacarita’. Perkara iku ndadikake kesan yen novel iki suwung. Cerita kang diusung uga kurang dijlentrehake ndadikake katon ringkes banget lan kurang cetha, amarga kalebu novel kang tipis pranyata kacane namung ana 89 kaca. Kayata anggone perjuwangane Sutrisna nalika Mursiati dikabarake wus dijodhokake dening priyayi ing Tulungagung. Kaya apa lelampahane merjuwangake Mursiati iku kurang ngena ing nalar. Nalika dheweke ujug-ujug ana ing alas lan malah kapesan kena begal. Uga Mursiati pas kedadeyan iku kahanan ora dicritakake babar blas ndadikake crita ing bab 6 kanthi judul ‘kasusahan numpa-numpa’ iku janggal.
            Apa maneh crita sabanjure iku. Ana ing bab 6 namung dijlentrehake kesusahane Sutrisna, nanging ing bab 7 wus langsung dedaupan kelorone. Kudune ana crita akhir konflike karo wong tuwane Mursiati, ora langsung dedaupan kaya mengkono. Critane dadi duweni kesan durung rampun lan ujug-ujug dadi epilog, amergane ana ing crita sedurunge iku konflik ego antarane Mursiati karo wong tuwane kentel lan rame. Uwong tuwane Mursiati ora dimunculake maneh ana ing kisah pungkasane, malah bahas babagan utang budine sutrisna marang wong kang nyelametake pas aa ing perantauan sing aneh nuju papane Mursiati kang lagi nunggu dheweke merjuwangake tresnane. Persualan sing paling abot nanging pancen wus lumrah kedadeyan ana ing cerita novel yaiku babagan kepriye anane pugkasaning cerita. Ana salah fatale yaiku penggawean pungkasan cerita sing kurang banget kaon gregete. Dalan cerita saka pitepngan, anti klimaks, klimaks kang urutan saka ngarep menyang mburi amarga nggawa alur maju iku digawe rancu dening pungkasan kang kathon pancene banget kurang trepe. Sanadyana mengkana nanging ya wus berhasil anggone nyusun amaraga wus bisa agawe pembaca iku penasaran lan ngrampungake kanth rampung ing pungkasane.
            Saliyane iku, saben buku uga wus mesthi duweni manfaat anggone disusun kaya mengkana. Novel kang duweni titik inti ing tema katresnan iki uga ngandut makna lan manfaat. Ana pira-pira ajaran sing dientokake dening pangript kanggo nunjukake ilmu-ilmu pengetahuan sing diduweni uwong ing jaman biyen babagan ilmu adat kejawen. Kayata babagan perkara apa bae sing patut dilakokake dening priyayi wadon. Uga bab kanyatane anggone sem-seman iku anggae gambaran kepriye tlak belakange kahanan uwong saiki lan uwong kang nganut paham adat jaman biyen. Cerita taksirane kekarone bisa ngibur lan kayata ngrasuk awake dhewe, utawa kayata dialami dhewe ning kauripan iki. Bab iku nggawe bukti yen pancene Soeratman Sastradihardja wus bisa agawe penikmat utawa pembacane ngrasuki dalan cerita kang digawe dheweke.
            Sarane kanggo novel iki yaiku kudu luwih bisa agawe kesan ora boseni kanggo penikmate. Aja namung inti-ntine bae sing ditulisake, nanging uga kajelasan kanggo ngarahake cerita utawa persualan sing wus ana ing sadurunge, ora kok banjur ganti iti cerita lan ngrampungake ceritane kanthi kurang agawe greget. Bahasane dhewek kang digunakake wus trep lan apik, bahasa kang dhuwr uga ora ana klentune kanggone penerapane kayata saka mursiati menyang wong tuwane. Ora beda kao tata kramane kang dituduhke dening pangripta. Ana panjlentrehan secara tersirat babagan kahanan kang digawe antarane wong enom karo wong tuwa, wong tuwa karo wong tuwa, wong tuwa marang wong enom. Perkara iku pancee ndadekake pembaca ngrasakake pengajaran uga. Pangipta bae dene anggone gawe gambaran kaya mengkana mung aweh arepan supaya ora bakalan ana pangbahing tindak tanduk tata krama kang wus diajarake dening leluhur karo kahanan saiki ing jaman sing pancene serba modern.
            Mula Soeratman Sastradihardja diarepake bisaa dadi penulis sing uga bisa menehi ajaran-ajaran sederhana kang wus ana nanging wus ora tahu dimangerteni marang kabeh pembacane. Diarepake ufga supaya luwih agawe greget kang trep lan muasake ana ing akhir ceritane. Sanadyana sing dikarepake dening Soeratman iku akhir cerita kang bahagia bisaa dadi akhir cerita sing nggantung bae nanging bisa nimbuake menawa crita iku pancene pungkasane iku dadi seneng. Amargane perkara iku bisa dadikake pembaca wus bisa maca dalan ceritane sahingga agawe kecewa pembaca lan ndadikake ora ngrampungake panjlentrehan bab pungkasan sing wus bisa diwaca iku mau. Malah bisaa ndadikake pangripta duweni kesan elek ing dalan cerita sanadyana wus bisa menehi penjentrehan apik lan berwawasan babagan ilmu adat kejawen kala iyen kayaa kang wus disebutake kala mau.
            Ning kaya apaa kritik saran mau namung diarepake bisa mbangun pagripta dadiya luwih becik maneh anggone nyiptakake cerita maneh. Novel kanthi judul katesnan lan duweni tema kang pada karo judule iku mau wus bisa dikira dadi ovel best seller amarga nyengkuyung kisah erita sederhana nanging agawe penasaran pembaca, amargane kyata nggawa cerita Siti Nurbaya karyane Marah Rusli ning sejaine ngadeg njumedeg dhewek agawe suasana cerita anyar kang ana ing lingkup adat pranata masyarakat suku jawa ing kutha utawa desa. Masyarakat dhewek diarepake bisa nyaring ajaran-ajaran api bae sing ana, ora kok malahan didadikake acuan nasib kang dikira pada karo kedadeyan cerita kng dikarang.Novel iki bisaa dadi novel kang wus pantes didadikake bacaan kang apik lan mendidik kanggo masyarakat.

Selasa, 30 Desember 2014

SALOKA

Saloka yaiku unen-unen ajeg panganggone ngemu surasa pepindhan kang dipindahake wonge. Tuladha Asu belang kalung wang : Wong ala (asor) ananging sugih bandha. Asu gedhe menang kerahe : Luwih dhuwur pangkate, luwih gedhe panguwasane. Ati bengkong oleh oncong : Wong duwe niat ala, ana sing nyarujuki, oleh dalan. Baladewa ilang gapite : Ilang kekuatane. Bathok bolu isi madu : Wong asor nanging sugih kepinteran. Bebek mungsuh mliwis : Wong pinter mungsuh pinter, sijine kalah ubed utawa kalah trampil. Belo melu seton : Melu anut grubyug nanging ora ngreti karepe. Cebol nggayuh lintang : Gegayuhan kang mokal bisane kelakon. Cecak nguntal empyak/cagak : Gegayuhan kang ora timbang karo kekuwatane. Dhandhang diunekake kuntul, kuntul diunekake dhandhang : Ala diunekake becik, becik diunek-ake ala. Dhemit ora ndulit, setan ora doyan : Tansah diparingi slamet. Dom sumuruping banyu : Laku sesidheman kanggo nyumurupi wewadi. Emprit abuntut bedhug : Prekara sepele dadi gedhe. Endhas gundhul dikepeti : Wis kepenak isi dienak-enakake. Gagak nganggo elaring merak : Wong asor (cilik) tumindak kaya wong luhur. Gajah alingan suket teki : Lair lan batine ora padha bakal ketara. Gajah ngidak rapah : Nerjang wewalere/janjine dhewe. Gajah perang karo gajah kancil mati ing tengah : Wong gedhe pasulayan, wong cilik dadi kurban. Gong lumaku tinabuh : Wong sing kumudu-kudu ditakoni, dijaluki piwulang. Idu didilat maneh : Menehi dijaluk bali (murungake janji kang wis diucapake). Iwak klebu ing wuwu : Wong sing kena apus kanthi gampang. Jati ketlusuban ruyung : Kumpulane wong becik kelebon wong ala tumindake. Jaran kerubuhan empyak : Wis kapok banget. Kacang ora ninggal lanjaran : Pakulinane anak lumrahe niru wong tuwa. Kebo bule mati setra : Wong pinter nanging ora ana kang merlokake. Kebo ilang tombok kandhang : Wis kelangan, isih ngetokake wragat kanggo nggoleki. Kebo kabotan sungu : Rekasa jalaran kakehan anak. Kebo mulih ing kandhange : Wong lunga wis suwe, bali ing omahe maneh. Kebo nusu gudel : Wong tuwa njaluk warah marang wong enom. Kere munggah bale : Wong didadekake wong luhur. Kethek saranggon : Sagrombolan wong tumindak ala. Klenthing wadhah masin : Angel ninggalake pakulinan ala. Kriwikan dadi grojogan : Prekara cilik dadi ngambra-ambra(gedhe). Kutuk marani sunduk : Njarag marani bebaya. Lahang karoban manis : Rupane ayu/bagus tur ya apik bebudene. Lambe satumang kari samerang : Dituturi bola-bali tetep ora nggugu. Legan golek momongan : Kepenak malah golek rekasa. Opor bebek mentas awake dhewek : Rampung saka dayane dhewe. Palang mangan tandur : Dipercaya malah gawe rusak Pecruk tunggu bara : Dipasrahi tunggu sing dadi kesenengane. Pitik trondhol diumbar ing pedaringan : Wong ala dipasrahi nunggu barang pengaji, wekasan malah ngentek-enteki. Satru munggwing cangklakan : Mungsuh wong sih isih sanak sedulur. Sumur lumaku tinimba : Wong sing kumudu-kudu ditakoni. Tekek mati ulone : Nemu cilaka jalaran saka guneme dhewe. Tumbu oleh tutup : Wis cocog banget. Timun mungsuh duren : Wong cilik mungsuh wong kang duwe panguwasa. Timun wungkuk jaga imbuh : Wong bodho kanggone mung yen kekurangan wae. Tunggak jarak mrajak, tunggak jati mati : Prakara ala ngabra-ambra, prekara becik mung kari sethithik.

Senin, 01 Desember 2014

LAYANG BIRU


Awaku taksih meneng ndelok tumpukan layang werna biru sing wus sempet dakwaca ana ing dhuwur meja. Ana gumeter beda ing sekujur awak iki. Salah sawijining perkara sing pancen agawe dina-dinaku saiki dadiya gelisah. Wus limang taun aku kenal karo Zaki, nanging nembe amerga layang-layang iku mau sing marekake aku ngerti babagan rasane Zaki iku menyang aku. Genep telung wulan iki layange Zaki ora lat nangkring saben senen esuk ana ing jendela kamar. Ora ngerti apa sing kudu daklakokake, aku namung meneng lan meneng bae ndelok kahanan.
Aku, Zaki, Bima, Indah, lan Asih, kawit awal mlebu SMP wus dadi kanaca cedhak. Apa maneh Zaki lan Asih, saben dina kekarone sering dolan menyang umahku. Mula ora gumun yen awaku lan Zaki wus dudu cedhak maneh jenenge olehe kekancan. Nanging ora bakal kepikir yen ujunge dadiya kaya mengkene. Zaki duweni rasa kang beda menyang aku. Tetembungane ana ing layang ngetokake yen dhewee pancen serius.
“ Aku durung yakin marang apa kang diarani tresna, Mbak, apa maneh tresnane Zaki iku. Aku uga duweni komitmen kawit dhisik, yen aku ora bakal dadi karo kancaku dhewe”.
“ Yen wus duweni komitmen, ya dilakokake bae, Fit... Nanging yen awakmu pancene ngrasa nyaman, ya wis ditrima.. toh kowe iki wus kenal suwe karo dheweke.” Ucape Yu Siti sinambi nguleg bumbu rujak kanggo Anto, anakke.
Dakjupukake jambu, timun, lan bengkuwang sing arep dirujak marang cedhake Yu Siti, “ abot mbak kanggo nrima Zaki. Zaki kancaku, lan aku ora seneng pepacangan karo kancaku dhewe. Aku kudu buwang apa kang dirasakake Zaki menyang awaku iku”.
“ Mung merga iku?” Gumune Yu Siti, “Ya wis.. sak senengmu bae lah, dik. Welingku mung siji.. aja sembarangan menyang apa kang diarani tresna, amerga tresnane Zaki marang kowe iku durung mesthi bisa gedhe kaya mengkono tinimbang marang wong wedhok liya. Sing jelas mbakyumu iki namung bisa ndunga supaya iki ora bakalan nyesel mbesuke”.
Jalaran omongane Yu Siti sing kaya mengkono mau, aku dadiya tambah bingung mikirake sekabehane. Namung lunga menyang warung makane Kang Dakir, kakange Asih, kanggo kumpul karo kanca sing akhire bisa ngalihake pikiranku. Pancen papan iku sing biyasane digunakake aku sakanca kanggo lelungguhan bareng.
“ Ana apa ta Fit, kok sajake awakmu kaya bingung ngono? Ana masalah apa?” Tembunge Indah kang pancene kawit mau katon ngilengi paraupanku ngisor dhuwur.
“ Ah, ora.. kowe bae sing ngrasa aneh marang awaku. Ora ana apa-apa, Ndah.”
Asih sing maune lagi sibuk ngitungi receh jujulan warunge kakange iku banjur nyambungi, “ halah kowe iki, Fit.. mesthi ana kang ditutupi. Nanging Ndah, ya pancene kancane dhewe ki sajake lagi padha kesambet setan alas kabeh kayake. Mbuh Fitri, mbuh Zaki, gaweyane ngalamun bae.”
Makdeg aku krungu tembung Zaki kesebut. Nanging, aku ngrasa ora pengin gawe kancaku geger amerga apa sing kedadeyan menyang awaku saiki. Bubar krungu tetembungane Asih malah agawe aku mikir pangrasa anyar. Gelagate Asih nalika ngomongake Zaki ngetokake ana kang beda.Banjur tak sambung seperlune tembungane Asih.
“ Hla, Apa Zaki lagi ngelamunan kaya ngono iku, Sih?
“ Hiya.. kaya ana beban gedhe. Aku kok ngira-ira yen dheweke lagi kesengsem karo wong wedhok ya? Gelagate rak ngetoni kaya mengkana, Fit, Ndah?”
Tanpa diaba-aba gulune Indah lan aku padha-padha menga dedelengan. Amerga Indah ngrasa aneh marang gelagate Asih, karo gaya plonga-plongo nyauri Asih seanane, “ embuh.. aku dhewe ora paham.”
“ Aku uga.. wah, aja-aja kowe sing kesengsem ya menyang dheweke, Sih? Kok rasa-rasane nggatekake tenan marang Zaki?”
“ O..o..ora.. kok dadi aku sing kena ta?”
Aku lan Indah namung bisa cekikikan ndeleng pasemone Asih dumadakan rubah dadi abang. Pancen trep karo pemikirku, Asih pancen mendem rasa marang Zaki.
“ Ora, Sih.. miturut panemuku ya ngana iku. Zaki pancene lagi duweni rasa kesengsem menyang wong wedhok, lah wong wedhoke iku kowe.”
“ Uwis ta, Sih.. aku lan Fitri ngerteni yen kowe duweni rasa menyang Zaki. Zaki iku pancen trep yen pepacangan karo awakmu. Rupane bagus, awake gagah, pinter, lan pengerten maneh marang wong wedhok. Wah... cocog karo awakmu sing ayu, alus, lan keibuan kaya mengkana.” Godane Indah sing agawe Asih sansaya gelagepan.
            Asih gelagepan ora bisa nutupi pangrasane maneh. “ Nanging, apa Zaki tenan duweni rasa marang aku?”
            “ Wes.. aja kuwatir. Ben aku sing nglurusake pangrasamu lan dheweke iku. Kita melu seneng yen kancane kita uga seneng”
            Setu sore langsung daktulis layang kanggo ngutarake niyatku nulak Zaki. Aku terus terang yen njaluk dheweke kanggo nyauri rasa tresnane Asih tinimbang marang aku sing urung genah iki. Ora lali ning akhir paragrap daktulis pengerten kaya mengkene,
........maturnuwun wus duweni rasa marang awaku. Ning daksuwun sampeyan ngerteni apa kang dirasakake Asih kawit biyen marang awakmu. Tresnane Asih luwih butuh tresnamu. Maturnuwun..
Sawuse layang iku kekirim jebul perkara padatan ing senen esuk taksih kelakon. Ana layang biru sing nangkring ning jendela kamarku. Ora ngerti apa sing dakpikirake, layang biru sing kekirim esuk iki agawe mripatku ora bisa ngempet luh. Ana tembung sing agawe atiku ngruntuh. “ Maturnuwun uga wus tau dadi kang kinasih ana ing uripku, Fitri..”  
Sajege saka kedadeyan iku Zaki wus ora tau ana kabare maneh. Ana rasa sing beda ing sajrone ati lan uripku. Layang biru saben senen esuk ora tau nangkring maneh ning jendela kamarku. Sanadyan pancen ora ana pepenginan ing pikiranku, nanging ora bisa dakpungkiri yen aku satemene kelangan sosok priyayi iku. Ana ing warunge kang Dakir uga sepi. Zaki utawa Asih ora tau katon maneh. Jare kakange, Asih saiki sering lelungan sabarang papan karo calone. Indah bae ora ngerti kahanan sapa satemene calon sing disebut Kang Dakir mau. Nanging aku yakin yen priyayi iku ora liya ya satemene Zaki.
Nganthi sawijining dina dakweruhi langsung prasasat sing wus dadi prakiranku. Asih boncengan motor nglintasi omahku karo njekel kenceng bangkekane sing lanang. Kekarone mesam mesem ketemu aku, Indah, lan Bimo sing lagi jejagongan ning ngarepan umahku. Getihku krasa kayata ndleser mandeg makdeg nalika motor iku mandeg ngarepku persis.
“ Wadhuh.. ana pasangan anyar ora kabar-kabar kancane dhewe jebulane, Ndah?” Sindir Bimo ngomong marang Indah sinambi nglirik kekarone. Aku namung bisa meneng.
“ Iya ta? Wadhuh jan.. ora kelingan kanca berarti yen ngono iku!”
“ Wes..wes.. lah iki aku arep ngomong bab hubunganku karo Asih marang kowe kabeh, kanca-kanca raketku kawit biyen.”
Asih kang kawit mau ora nyurupake eseman saka lambe tipise melu nyauri, “ iya.. sesasi maneh bakal ana resepsi tunanganku karo mas Zaki ngepasi tanggal ulang tahunku. Padha teka ya? jam 7 wengi.”
“ Wah... Aku karo Fitri wus ngira kawit awal. Slamet ya! dhewe kabeh melu seneng. Iya kan, Fit?” Jawabe Indah sinambi nggepok pundhake Zaki lan noleh marang aku.
“ Ehm.. iya, selamet ya.. muga-muga langgeng.” Tuturku rada salah tingkah. Zaki mesem tipis, marakake dadaku sesek.
“ Maturnuwun, Fit.” Jawabe Zaki, “ ya wis ya.. aku arep nggolek sandangan kanggo resepsi tunanganku. Aku dhisik ya..”
Bebarengan karo mlakune kekarone sing saya suwe saya adoh, pikiranku uga meloni. Saya suwe saya mbrambang. Ana gumeter nlangsa. Geter sing ora tau dakkarep-karepake. Kelingan maneh aku marang welinge Yu Siti yen aku ora ulih nyesel marang apa kang wus dadi pilihanku. Saiki aku pancene ora bisa mungkiri maneh yen aku duweni rasa uga menyang Zaki. Nanging wus ora ana pilihan maneh. Kabeh wus kedadeyan. Zaki wus arep serius marang Asih lan perkara iku pancen wus dadi panjalukku menyang Zaki. Layang biru iku wus nyihir kauripanku. Prasasat kang nyata, kakubur karo karepan pangus sing njaluk kelakon tanpa mikir dawa.